- Pengertian.
Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri, pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha menimbulkan kesadaran diri (atutur ikang atma ri jatinya). Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa upawasa, monabrata dan jagra. Siwarâtri juga disebut hari suci pajagran.
- Waktu Pelaksanaan.
Siwarâtri jatuh pada hari Catur Dasi Krsna paksa bulan Magha (panglong ping 14 sasih Kapitu).
- Brata Siwarâtri.
Brata Siwarâtri terdiri dari:- Utama, melaksanakan:
- Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
- Upawasa (tidak makan dan tidak minum).
- Jagra (berjaga, tidak tidur).
- Madhya, melaksanakan:
- Upawasa.
- Jagra.
- Nista, hanya melaksanakan:
Jagra.
- Utama, melaksanakan:
- Tata cara melaksanakan Upacara Siwarâtri.
- Untuk Sang Sadhaka sesuai dengan dharmaning kawikon.
- Untuk Walaka, didahului dengan melaksanakan sucilaksana (mapaheningan) pada pagi hari panglong ping 14 sasih Kapitu. Upacara dimulai pada hari menjelang malam dengan urutan sebagai berikut:
- Maprayascita sebagai pembersihan pikiran dan batin.
- Ngaturang banten pajati di Sanggar Surya disertai persembahyangan ke hadapan Sang Hyang Surya, mohon kesaksian- Nya.
- Sembahyang ke hadapan leluhur yang telah sidha dewata mohon bantuan dan tuntunannya.
- Ngaturang banten pajati ke hadapan Sang Hyang Siwa. Banten ditempatkan pada Sanggar Tutuan atau Palinggih Padma atau dapat pula pada Piasan di Pamerajan atau Sanggah. Kalau semuanya tidak ada, dapat pula diletakkan pada suatu tempat di halaman terbuka yang dipandang wajar serta diikuti sembahyang yang ditujukan kepada:
- Sang Hyang Siwa.
- Dewa Samodaya.
Setelah sembahyang dilanjutkan dengan nunas tirta pakuluh. Terakhir adalah masegeh di bawah di hadapan Sanggar Surya. Rangkaian upacara Siwarâtri, ditutup dengan melaksanakan dana punia. - Sementara proses itu berlangsung agar tetap mentaati upowasa dan jagra.
Upawasa berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai dengan besok paginya (24 jam).
Setelah itu sampai malam (12 jam) sudah bisa makan nasi putih berisi garam dan minum air putih.
Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir besok harinya jam 18.00 (36 jam). - Persembahyangan seperti tersebut dalam nomor 4 di atas, dilakukan tiga kali, yaitu pada hari menjelang malam panglong ping 14 sasih Kapitu, pada tengah malam dan besoknya menjelang pagi.
Om Swastyastu . Dumogi ring situs puniki iraga saling mebesikan antuk ngelestarian lan ngajegan Budaya Bali, Om Canthi,Canthi,Canthi, Om
Kamis, 24 Februari 2011
Upacara Siwaratri By: Agus Sukma
Makna Rerajahan Bali
Tentang Rerajahan
Semua adil dalam cinta 'yang mengatakan bahwa dipahamisempurna oleh orang Bali. Ketika cinta dari seorang pria atauwanita tampaknya tidak mungkin untuk mencapai, sekarang saatnya untuk sihir untuk bergabung dengan permainan. Sihir cintadi Bali memiliki berbagai bentuk. Range dari mantra untuk jimat,dari pesona ramuan, yang menghasilkan berbagai efek kepada korban.
Jimat

Ada banyak jenis jimat yang digunakan untuk mendapatkan cintadari seorang pria atau wanita, yang paling kuat dari semua adalahArjuna koin dan koin bulan. Koin Arjuna yang digunakan olehmanusia memiliki citra pahlawan romantis Arjuna dari epikMahabharata, sedangkan yang digunakan oleh perempuan adalahkoin bulan. Bulan-koin memiliki gambar bulan baru di atasnya. Koinini diyakini telah dibuat oleh para dewa dan bukan oleh manusia,mereka ditemukan tergeletak di sekitar candi di malam hari jikakeinginan para dewa untuk menyajikan satu dengan koin sihir. Info By: Agus Sukma
Semua adil dalam cinta 'yang mengatakan bahwa dipahamisempurna oleh orang Bali. Ketika cinta dari seorang pria atauwanita tampaknya tidak mungkin untuk mencapai, sekarang saatnya untuk sihir untuk bergabung dengan permainan. Sihir cintadi Bali memiliki berbagai bentuk. Range dari mantra untuk jimat,dari pesona ramuan, yang menghasilkan berbagai efek kepada korban.
Jimat

Ada banyak jenis jimat yang digunakan untuk mendapatkan cintadari seorang pria atau wanita, yang paling kuat dari semua adalahArjuna koin dan koin bulan. Koin Arjuna yang digunakan olehmanusia memiliki citra pahlawan romantis Arjuna dari epikMahabharata, sedangkan yang digunakan oleh perempuan adalahkoin bulan. Bulan-koin memiliki gambar bulan baru di atasnya. Koinini diyakini telah dibuat oleh para dewa dan bukan oleh manusia,mereka ditemukan tergeletak di sekitar candi di malam hari jikakeinginan para dewa untuk menyajikan satu dengan koin sihir. Info By: Agus Sukma
Makhluk Gaib Bali
Info By: Agus Sukma
Indonesia adalah negara yang terdiri dari banyak kultur kebudayaan. Mulai dari busana adat, senjata tradisional, rumah adat, kebudayaan dan lain sebagainya. Selain itu, di dunia gaib pun Indonesia memiliki cirri khasnya masing-masing. Meskipun beberapanya ada yang sama Cuma berbeda nama saja. Nah, di postingan kali ini, saya ingin membagi sedikit pengetahuan tentang setan-setan atau dikenal dengan nama Wong Samar yang ada di Bali.
Celuluk
Makhluk gaib ini yang saya tahu merupakan makhluk gaib paling terkenal di Bali. Secara nyatanya saya belum pernah melihat bagaimana sosok yang sebenarnya dari makhluk gaib ini. Jika dilihat dari pemaparan orang-orang yang katanya pernah melihat sosok ini dan dari pementasan calonarang sosok ini kurang lebih berbentuk seperti manusia, berkepala gundul dengan menyisakan sedikit rambut di bagian belakang dan tentunya berwajah menyeramkan. Perutnya gendut dengan susu yang gelantungan. Kuku di setiap jari tangannya begitu panjang. Yah…kalau bisa dibilang kurang lebih samalah dengan wewe gombel dalam mitos hantu jawa, yang membedakan Cuma parasnya saja.
Wong samar yang satu ini biasanya menghuni tempat yang lembat dan gelap seperti sungai, jurang, danau dan lain-lain. Sosoknya digambarkan menyeramkan dengan rambut yang acak-acakan ada juga yang melihat Tonya ini berbentuk seperti anak-anak yang suka bermain air. Ada satu kejadian menarik dengan Tonya ini, walau saya ga ngelihatnya secara langsung tapi saya meyakini adanya,dan menurut kebanyakan orang tonya itu sendiri lebih aktif pada siang hari,sekitar pukul 12.00 siang. Tonya biasanya dijadikan objek untuk menakuti-nakuti anak-anak supaya tidak terlalu lama maen di sungai.
Memedi
Memedi ini selalu saja jadi sosok yang sering dijadikan bahan untuk menakut-nakuti anak kecil. “De melali tengai tepet, engkebang memedi nyanan” (jangan maen siang2 bolong, nanti disembunyiin memedi) seperti orang tua dulu kalau memperingati anak-anaknya. Memedi digambarkan berwajah seram, dengan rambut panjang dan acak-acakkan, seringkali rambutnya digambarkan berwarna merah cerah. Menempati pohon bambu atau pohon lebat. Seperti yang saya bilang tadi, seringkali memedi ini sebagai makhluk gaib yang suka menyembunyikan anak kecil.ini sejenis wewek gombel di jawa.
Gregegk Tunggek
Gregek tunggek ini digambarkan sama dengan sosok kuntilanak atau Sundel Bolong yaitu sesosok perempuan dengan wajah menakutkan, rambut terurai panjang plus busana putih kebanggaannya, seperti itulah kalau tidak salah penggambarannya yang pernah saya baca di majalah Bali Aga beberapa tahun silam. Biasanya menempati pohon, kuburan, rumah kosong, hutan. Jadi bisa dibilang kalau Gregek Tunggek itu bahasa Balinya Kuntilanak dan Sundel Bolong.
Jaka Tunggul
Kalau Jaka Tunggul ini digambarkan seperti pohon Jaka atau dalam bahasa Indonesianya pohon enau mempunyai ukuran sangat besar dan seringkali Jaka tunggul ini bergerak jadi tidak diam di satu tempat.
Bererong
Sama seperti tuyul, tugas dari makhluk gaib ini adalah mendapatkan kekayaan/pesugihan. Digambarkan seperti seekor ular yang dapat menyelinap sesuai kehendak sang pemilik. apabila bererong telah mendapatkan hasilnya, maka dia akan menggoyangkan badannya dan dari badannya akan keluar barang-barang berharga yang dicurinya.
Banaspati
Sebenarnya ragu kalau saya menyebutkan Banaspati ini sebagai wongsamar karena ada yang bilang banaspati ini sebagai ancangan/unen-unen tempat yang keramat. Maaf kalau saya memasukkannya sebagai jenis wong samar. Tidak banyak orang tahu bagaimana sosok penggambaran dari Banaspati ini karena konon sangat berbahaya jika sampai kepergok melihat Banaspati. Ada yang bilang, Banaspati seperti sosok barong, setiap kemunculannya selalu diiringi dengan bunyi gongsengan/lonceng kuda tapi berirama seperti gongsengan barong. Ada juga yang bilang sosoknya seperti anjing tetapi setiap dilihat sosok anjing semakin lama semakin membesar sampai tidak terlihat ujungnya. Banaspati sangat jarang menampakkan diri.
Mungkin ada yang bertanya kenapa saya nggak memasukkan Leak? Hehehe…yang saya tahu Leak itu bukan makhluk gaib tetapi sebuah ilmu gaib. Tapi kebanyakan orang menganggap kalau setan yang ada di Bali disebut Leyak. Ilmu Leyak sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu. Ada berbagai cara mempelajari Leyak. Ada yang dari pewarisan orang tua, ada yang khusus mempelajari dengan mengikuti kegiatan di pesraman khusus Leyak dan ada juga yang dengan Newas Raya atau memohon langsung kepada Dewi Durga.
Oke postingan ini tujuannya hanya untuk berbagi apa yang saya tahu tentang makhluk gaib yang ada di Bali. Data-data yang ada disini pun Cuma pendapat saya dan pendapat dari saudara-saudara bukan berupa data akurat dari sebuah buku. Jadi, mohon maaf kalau apa yang saya jelaskan disini tidak seratus persen benar. Mungkin ada yang lebih tahu…bisa dishare disini atau kalian bisa share tentang makhluk gaib dari daerah anda.
Art of the Cottage Pekandelan Bongli
Info By: I Kadek Bgs. Sukma Wibawa
Foto2 pengiring dan anggota:
Megambel
Ratu Ayu
Nedunan
Foto2 pengiring dan anggota:
Megambel
Ratu Ayu
Nedunan
| Didirikan | Since Happen Action Supported uniformity harsh and erratic flow. |
|---|---|
| Lokasi | Tabanan, Indonesia |
| Tentang | Art of the Cottage Pekandelan Bongli |
| Keterangan | Training of personnel in that cling to the teachings of Dharma prevailing in teaching Hinduism. Located in Pondok Pekandelan Bongli Village, sub Penebel, the city of Tabanan, Bali Province. |
|---|---|
| Informasi Umum | If you believe anything can happen as you wish! |
| Misi | Creating confidence in every soul boy! |
| Penghargaan | Tradition Award Ajeg Bali. |
| Situs Web | http://www.facebook.com/pages/Art-of-the-Cottage-Pekandelan-Bongli/147478738645021?sk=wall |
|---|
Leak di Langit Karang Asem
Info By: Agus Sukma
MALAM menjelang di Desa Padang Aji, Selat Karang Asem. Sekitar pukul 22.00 wita, seusai sejumlah tarian rakyat, keluarlah tarian Walunateng Dirah pertanda dimulainya pergelaran drama Calon Arang yang dimainkan perguruan Sandhi Murti.
Perlahan, suasana terasa mencekam di desa terpencil di pegunungan itu. Arena jaba pura desa yang sedang menyelenggarakan upacara piodalan itu dipadati lebih dari 500 penonton, tapi suasana hening. Ketegangan terus menanjak. Apalagi setelah adegan peperangan antara Patih Madri dan para murid Ratu Dirah.
Lima tokoh rangda lalu muncul di tengah-tengah arena sambil mengucapkan mantra-mantra pengleakan. Tampil pula tokoh desa yang desanya terkena wabah grubug mengundang para leak. Dengan nada humor, dia menantang para leak di wilayah itu agar muncul dan bertarung." Ayo, aku siap dimakan leak," katanya dalam bahasa Bali.
Adegan berikutnya adalah munculnya dua usungan membawa dua bangke matahyang seolah adalah kroban grubug. Peran sebagai bangke matah (mayat) inilah yang sebenarnya paling ditakutkan orang karena sangat mengundang risiko. Pemainnya bisa benar-benar mati karena menjadi sasaran tembak serangan ilmu leak. Upacara penguburan pun dimulai dengan memandikan jenazah.
Saat itulah banyak penonton yang melihat bola api berseliweran di udara. Di tengah-tengah upacara penguburan, penglingsir Puri Padang Aji memperingatkan penonton agar tidak ikut mendampingi mayat itu ke kuburan (setra) yang jaraknya sekitar 2,5 kilometer. Upacara selesai, mayat itu pun diusung yang diikuti ratusan anggota Sandhi Murti dari belakang.
Kedua mayat itu kemudian diletakkan di atas gundukan tanah kuburan. Upacara selanjutnya dimulai. Pada saat inilah kembali penonton heboh karena melihat api, ada pula yang melihat kain putih membentang. Tidak sampai 15 menit, kedua mayat tadi benar-benar hidup kembali.
Pinisepuh Perguruan Sandhi Murti Indonesia, Drs. I Gusti Ngurah Harta, menyebut bola api yang muncul itu merupakan salah satu wujud leak yang hadir meramaikan pertunjukan. Hanya, leak-leak tadi pengecut tidak berani sampai datang ke arena pertunjukan untuk menunjukkan kesaktiannya.
Bagi Sandhi Murti, pertunjukan Calonarang merupakan bagian dari olah kreativitas mereka. Sekaligus untuk menghibur masyarakat. Tapi mereka punya satu syarat, pergelaran haruslah di tempat-tempat yang masih dipandang angker dan belum terganggu oleh hiruk-pikuk dan sorot lampu.
Drama Calonarang sendiri erat kaitannya dengan ilmu pengleakan karena cerita itu membeberkan bagaimana ilmu leak digunakan pada zaman Kediri. Drama ini biasanya dipergelarkan dalam upacara piodalan (ulang tahun berdasarkan hitungan kalender Bali) Pura tingkat madya yang biasanya 10 tahun sekali sebagai kelengkapan upacara.
Sejak tahun 1980-an, Ngurah Harta secara terbuka menyatakan, dia memang menekuni ilmu pengleakan. Ilmu leak, kata dia, merupakan salah satu kearifan lokal yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. "Sayang sekali kalau hilang, karena nenek moyang kita telah menciptakannya," ucapnya.
Cikal bakal ilmu ini, menurut dia, adalah ajaran Tantri yang di Bali berkembang pada zaman Mahendradatta (ibu Erlangga). Jadi, jauh sebelum terciptanya kisah mengenai Janda Dirah pada zaman Kerajaan Kediri masa Erlangga itu. Ajaran ini adalah sebuah sekte yang menyembah Durga.
Dan pertunjukan malam itu memang terasa mencekam. Sekaligus menunjukkan di tengah Bali yang makin berubah, tetap saja ada sisi magis Bali yang bertahan. "Istri saya ketika melihat bola api di udara sampai ketakutan," ujar Komang Yanes, salah seorang warga Denpasar yang malam itu di Desa Padang Aji, Karang Asem, ikut menonton bersama istrinya.
MALAM menjelang di Desa Padang Aji, Selat Karang Asem. Sekitar pukul 22.00 wita, seusai sejumlah tarian rakyat, keluarlah tarian Walunateng Dirah pertanda dimulainya pergelaran drama Calon Arang yang dimainkan perguruan Sandhi Murti.
Perlahan, suasana terasa mencekam di desa terpencil di pegunungan itu. Arena jaba pura desa yang sedang menyelenggarakan upacara piodalan itu dipadati lebih dari 500 penonton, tapi suasana hening. Ketegangan terus menanjak. Apalagi setelah adegan peperangan antara Patih Madri dan para murid Ratu Dirah.
Lima tokoh rangda lalu muncul di tengah-tengah arena sambil mengucapkan mantra-mantra pengleakan. Tampil pula tokoh desa yang desanya terkena wabah grubug mengundang para leak. Dengan nada humor, dia menantang para leak di wilayah itu agar muncul dan bertarung." Ayo, aku siap dimakan leak," katanya dalam bahasa Bali. Adegan berikutnya adalah munculnya dua usungan membawa dua bangke matahyang seolah adalah kroban grubug. Peran sebagai bangke matah (mayat) inilah yang sebenarnya paling ditakutkan orang karena sangat mengundang risiko. Pemainnya bisa benar-benar mati karena menjadi sasaran tembak serangan ilmu leak. Upacara penguburan pun dimulai dengan memandikan jenazah.
Saat itulah banyak penonton yang melihat bola api berseliweran di udara. Di tengah-tengah upacara penguburan, penglingsir Puri Padang Aji memperingatkan penonton agar tidak ikut mendampingi mayat itu ke kuburan (setra) yang jaraknya sekitar 2,5 kilometer. Upacara selesai, mayat itu pun diusung yang diikuti ratusan anggota Sandhi Murti dari belakang.
Kedua mayat itu kemudian diletakkan di atas gundukan tanah kuburan. Upacara selanjutnya dimulai. Pada saat inilah kembali penonton heboh karena melihat api, ada pula yang melihat kain putih membentang. Tidak sampai 15 menit, kedua mayat tadi benar-benar hidup kembali.
Pinisepuh Perguruan Sandhi Murti Indonesia, Drs. I Gusti Ngurah Harta, menyebut bola api yang muncul itu merupakan salah satu wujud leak yang hadir meramaikan pertunjukan. Hanya, leak-leak tadi pengecut tidak berani sampai datang ke arena pertunjukan untuk menunjukkan kesaktiannya.
Bagi Sandhi Murti, pertunjukan Calonarang merupakan bagian dari olah kreativitas mereka. Sekaligus untuk menghibur masyarakat. Tapi mereka punya satu syarat, pergelaran haruslah di tempat-tempat yang masih dipandang angker dan belum terganggu oleh hiruk-pikuk dan sorot lampu.
Drama Calonarang sendiri erat kaitannya dengan ilmu pengleakan karena cerita itu membeberkan bagaimana ilmu leak digunakan pada zaman Kediri. Drama ini biasanya dipergelarkan dalam upacara piodalan (ulang tahun berdasarkan hitungan kalender Bali) Pura tingkat madya yang biasanya 10 tahun sekali sebagai kelengkapan upacara.
Sejak tahun 1980-an, Ngurah Harta secara terbuka menyatakan, dia memang menekuni ilmu pengleakan. Ilmu leak, kata dia, merupakan salah satu kearifan lokal yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. "Sayang sekali kalau hilang, karena nenek moyang kita telah menciptakannya," ucapnya. Cikal bakal ilmu ini, menurut dia, adalah ajaran Tantri yang di Bali berkembang pada zaman Mahendradatta (ibu Erlangga). Jadi, jauh sebelum terciptanya kisah mengenai Janda Dirah pada zaman Kerajaan Kediri masa Erlangga itu. Ajaran ini adalah sebuah sekte yang menyembah Durga.
Dan pertunjukan malam itu memang terasa mencekam. Sekaligus menunjukkan di tengah Bali yang makin berubah, tetap saja ada sisi magis Bali yang bertahan. "Istri saya ketika melihat bola api di udara sampai ketakutan," ujar Komang Yanes, salah seorang warga Denpasar yang malam itu di Desa Padang Aji, Karang Asem, ikut menonton bersama istrinya.
Upacara Ngaben di Bali
Info By: Agus Sukma
Ngaben adalah upacara penyucian atma (roh) fase pertama sbg kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah. Seperti yg tulis di artikel ttg pitra yadnya, badan manusia terdiri dari badan kasar, badan halus dan karma. Badan kasar manusia dibentuk dari 5 unsur yg disebut Panca Maha Bhuta yaitu pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (zat panas) bayu (angin) dan akasa (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atma (roh). Ketika manusia meninggal yg mati adalah badan kasar saja, atma-nya tidak. Nah ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar.
Prosesi ngaben dilakukan dgn berbagai proses upacara dan sarana upakara berupa sajen dan kelengkapannya sbg simbol-simbol seperti halnya ritual lain yg sering dilakukan umat Hindu Bali. Ngaben dilakukan untuk manusia yg meninggal dan masih ada jenazahnya, juga manusia meninggal yg tidak ada jenazahnya spt orang tewas terseret arus laut dan jenazah tdk diketemukan, kecelakaan pesawat yg jenazahnya sudah hangus terbakar, atau spt saat kasus bom Bali 1 dimana beberapa jenazah tidak bisa dikenali karena sudah terpotong-potong atau jadi abu akibat ledakan.
Untuk prosesi ngaben yg jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dan mengambil sekepal tanah dilokasi meninggalnya kemudian dibakar. Banyak tahap yg dilakukan dalam ngaben. Dimulai dari memandikan jenazah, ngajum, pembakaran dan nyekah. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yg berbeda-beda. Ketika ada yg meninggal, keluarganya akan menghadap ke pendeta utk menanyakan kapan ada hari baik utk melaksanakan ngaben. Biasanya akan diberikan waktu yg tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya.
Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah), maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon(memandikan jenazah). Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sbg kelompok yg karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. Selesai memandikan, jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap. Selanjutnya adalah prosesi ngajum, yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol2 menggunakan kain bergambar unsur2 penyucian roh.
Ada beberapa pendapat ttg asal kata ngaben. Ada yg mengatakan ngaben dari kata beya yg artinya bekal, ada juga yg mengatakan dari kata ngabu (menjadi abu), dll.
Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sbg dewa pencipta juga adalah dewa api. Jadi ngaben adalah proses penyucian roh dgn menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Api yg digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah, dan api abstrak berupa mantra pendeta utk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yg melekat pada atma/roh.
Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia melalui rienkarnasi. Karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan besar, hal ini sering dilakukan begitu lama setelah kematian.
Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu, roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan.
Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui konsultasi dan kalender yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan "bade dan lembu" terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan.
Dalam Hindu diyakini bahwa Dewa Brahma disamping sbg dewa pencipta juga adalah dewa api. Jadi ngaben adalah proses penyucian roh dgn menggunakan sarana api sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Api yg digunakan adalah api konkrit untuk membakar jenazah, dan api abstrak berupa mantra pendeta utk mem-pralina yaitu membakar kekotoran yg melekat pada atma/roh.
Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia melalui rienkarnasi. Karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan besar, hal ini sering dilakukan begitu lama setelah kematian.
Untuk menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah, sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu, roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan.
Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui konsultasi dan kalender yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan "bade dan lembu" terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan.
Untuk prosesi ngaben yg jenazahnya tidak ada dilakukan dengan membuat simbol dan mengambil sekepal tanah dilokasi meninggalnya kemudian dibakar. Banyak tahap yg dilakukan dalam ngaben. Dimulai dari memandikan jenazah, ngajum, pembakaran dan nyekah. Setiap tahap ini memakai sarana banten (sesajen) yg berbeda-beda. Ketika ada yg meninggal, keluarganya akan menghadap ke pendeta utk menanyakan kapan ada hari baik utk melaksanakan ngaben. Biasanya akan diberikan waktu yg tidak lebih dari 7 hari sejak hari meninggalnya.
Setelah didapat hari H (pembakaran jenazah), maka pihak keluarga akan menyiapkan ritual pertama yaitu nyiramin layon(memandikan jenazah). Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana sbg kelompok yg karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. Selesai memandikan, jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap. Selanjutnya adalah prosesi ngajum, yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol2 menggunakan kain bergambar unsur2 penyucian roh.
Pada hari H-nya, dilakukan prosesi ngaben di kuburan desa setempat. Jenazah akan dibawa menggunakan wadah, yaitu tempat jenazah yg akan diusung ke kuburan. Wadah biasanya berbentuk padma sbg simbol rumah Tuhan. Sampai dikuburan, jenazah dipindahkan dari wadah tadi ke pemalungan, yaitu tempat membakar jenazah yg terbuat dari batang pohon pisang ditumpuk berbentuk lembu.
Disini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yg dianggap mampu untuk itu (biasanya dari clan brahmana). Pralinaadalah pembakaran dgn api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yg melekat ditubuh. Kemudian baru dilakukan pembakaran dgn menggunakan api kongkrit. Jaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi, tapi memakai api dari kompor minyak tanah yg menggunakan angin.
Umumnya proses pembakaran dari jenazah yg utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yg dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan. Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. Ada catatan lain yaitu utk bayi yg berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi, jenazahnya harus dikubur. Ngabennya dilakukan mengikuti ngaben yg akan ada jika ada keluarganya meninggal.
Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya. Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya.
Setiap orang tahu bahwa di satu saat nanti dia akan menjadi leluhur juga, yang di dalam perjalannya di dunia lain harus dipercepat dan mendapatkan perhatian cukup bila sewaktu-waktu nanti kembali menjelma ke Pulau yang dicintainya, Pulau Bali.
Disini kembali dilakukan upacara penyucian roh berupa pralina oleh pendeta atau orang yg dianggap mampu untuk itu (biasanya dari clan brahmana). Pralinaadalah pembakaran dgn api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yg melekat ditubuh. Kemudian baru dilakukan pembakaran dgn menggunakan api kongkrit. Jaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi, tapi memakai api dari kompor minyak tanah yg menggunakan angin.
Umumnya proses pembakaran dari jenazah yg utuh menjadi abu memerlukan waktu 1 jam. Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yg dilarung ke laut, karena laut adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan. Demikian secara singkat rangkaian prosesi ngaben di Bali. Ada catatan lain yaitu utk bayi yg berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal gigi, jenazahnya harus dikubur. Ngabennya dilakukan mengikuti ngaben yg akan ada jika ada keluarganya meninggal.
Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia berhubungan erat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya. Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena hubungannya dengan leluhurnya.
Setiap orang tahu bahwa di satu saat nanti dia akan menjadi leluhur juga, yang di dalam perjalannya di dunia lain harus dipercepat dan mendapatkan perhatian cukup bila sewaktu-waktu nanti kembali menjelma ke Pulau yang dicintainya, Pulau Bali.
Pura Gaduh Kebo Iwa
Info By: Agus Sukma discourse of (PHDI)
Pura Gaduh Kebo Iwa
SIAPA yang tidak kenal Patih Kebo Iwa. Dialah mahapatih paling sakti di zaman kerajaan dulu. Berkat kesaktian yang dimilikinya membuat Mahapatih Majapahit, Gajah Mada pusing tujuh keliling. Lantas apa hubungan Pura Gaduh Kebo Iwa dengan Mahapatih Bali, Gaduh Kebo Iwa?Pura Gaduh Kebo Iwa juga sering disebut Pura Gaduh, terletak disebelah timur Pasar Desa Adat Belahbatuh. Perjalanan menuju Pura megah ini tidak sulit, karena letaknya sangat strategis dan ada di jantung keramaian Kota Kecamatan Belahbatuh, Gianyar.
Dari Denpasar menuju pura ini, jika lalulintas lancar waktu yang dihabiskan hanya 30 menit. Pura Kebo Iwa posisinya ada di sebelah Selatan Bale Wantilan Blahbatuh. Begitu menginjak jalan aspal yang cukup bagus, Anda akan melihat betapa kokohnya Pura Gaduh Kebo Iwa, kondisi ini tidak hanya terlihat dari luar pura, di dalam pura kita juga melihat pemandangan yang sama.
Berbagai pelinggih yang megah akan Anda saksikan di pura ini yang seakan melukiskan betapa luhurnya karya seni dari leluhur kita yang telah mewariskan sebuah mementum bangunan yang sangat agung.Areal pura cukup luas, bisa menampung ledakan umat yang mau pedek tangkil ke pura. Pura Gaduh Kebo Iwa ini adalah kompleks dari berbagai pura yang ada di sebelah barat. Bagaimana sejarah berdirinya pura ini. Menurut Jro Mangku yang ngayah di pura ini, pura yang ada sekarang ini merupakan karya agung Patih Gaduh Kebo Iwa.
LANTAS SIAPA SEBENARNYA KEBO IWA ITU?
Dalam berbagai sumber lontar, disebutkan Gaduh Kebo Iwa adalah sebuah dongeng, tapi ada juga yang menyebutkan sebuah sejarah pada jaman dulu di Bali. Gaduh Kebo Iwa kalau di Bali sangat terkenal dengan kesaktiannya. Karena saktinya dia bergelar mahapatih yang tidak terkalahkan dan patih yang ditakuti oleh kerajaan-kerajaan yang ingin menguasai wilayah kerajaan yang dipegangnya. Tapi ada yang mengatakan Gaduh Kebo Iwa adalah seorang raksasa, bertubuh kuat, gagah perkasaa dan sangat sakti. Konon di Bali banyak sekali peninggalan sejarah yang merupakan hasil karya atau setidak-tidaknya ada hubungannya dengan kehidupan Patih Gaduh Kebo Iwa.
Menurut legenda atau dongeng Gaduh Kebo Iwa bertempat tinggal di Desa Blahbatuh tepatnya di sebelah Barat Daya Gianyar sekarang. Disebut-sebut sebagai peninggalan Kebo Iwa adalah Candi Padas Gunung Kawi, Kolam Tirta Empul yang ada di Tampak Siring dimana Kebo Iwa diceritakan mandi dengan menggosok punggungnya dengan batu yang datang sendiri dari Bukit Buluh yang ada di Klungkung. Sebuah jalan yang naik terjal yang ada di Trunyan juga disinggung ada missi perjalanan dari Kebo Iwa dan oleh penduduk dikatakan dengan undag (prigi) Kebo Iwa.
Singkat cerita setiap ada tempat atau tanah, batu berlobang sering dihubungkan dengan tapak kaki Kebo Iwa. Lebih hebat lagi Kebo Iwa hanya bermodalkan dengan kayu Kelor bisa menggotong atau memikul tanah. Jatuhan tanah yang dipikulnya dengan kayu kelor tersebut membuat sebuah pulau-pulau kecil seperti yang dikaitkan dengan adanya Pulau Nusa Dua sekarang.
Yang patut menjadi catatan tersendiri adalah Bali mencapai kejayaan itu justru ketika mahapatih Kebo Iwa masih berkuasa. Pasalnya semenjak Bali dikuasai Kebo Iwa, majapahit tidak bisa menjajah Bali. Untuk membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada membuat taktik jitu dengan menugaskan Kebo Iwa membuat sumur, setelah itu ditimbun dengan batu dicampur kapur. Maka Kebo Iwa pun wafat. *patra dari berbagai sumber.
PERMATA MERAH JATUH DENGAN GAIB
BERBAGAI keunikan yang ada pada sebuah pura ternyata apa yang kita mohonkan bisa jadi kita dapatkan. Begitu juga yang ada di Pura Kebo Iwa. Krama yang tahu pura ini akan mengadakan perjalanan sucinya untuk mendekatkan diri dengan Ida Sanghyang Widhi. Kalau kita percaya di Pura Gaduh/Kebo Iwa Ida sasuhunan sangat pemurah. Dan banyak para pemedek yang membuktikan mendapatkan sesuatu. Jangankan pada hari-hari piodalan, ternyata pada hari-hari biasa tidak jarang kita saksikan krama yang pedek tangkil. Krama yang tangkil datang dari berbagai daerah, sehingga pura ini bukanlah milik dari krama Blahbatuh. Seperti dikatakan oleh Jro Mangku Ketut Pada ketika dihubungi MBA mengatakan "Pura ini memang sering dikunjungi krama Bali dan tiang tidak tahu dari mana asal pedek tangkil kesini", ujarnya polos. Dengan keyakinan umat untuk mendalami agamanya yang semakin meningkat memang diakui sekarang berbagai pura sempat menjadi sasaran umat. Sehingga termasuk Pura Kebo Iwa ada saja yang datang untuk meminta restu sesuai profesinya. Ada cerita sangat menarik yang mengaku rombongan dari Denpasar. Di saat khusuknya menghaturkan sembah subhakti kehadapan Ida Sasuhunan ternyata salah satu rombongan tiba-tiba dikagetkan sebuah paica berupa batu permata merah.
Menurut rombongan tersebut tujuannya nangkil ke Pura Kebo Iwa tidak pernah terbesit akan mendapatkan suatu yang berupa paica. Batu merah itu tiba-tiba muncul di atas canang sarinya yang hendak dihaturkannya keluhur, kontan saja pemedek yang lainnya ikut kaget. Dibarengi setengah becanda bahwa ada seorang yang kehilangan permata merah hati. Dengan didapatkannya batu permata itu, maka persembahyangan menjadi lebih khusuk lagi karena diyakini Ida Sasuhunan adalah maha pemurah. Bagi krama setempat yang tidak tahu menahu tentang paica yang sering didapatkan pamedek. Karena itu anugerah, maka tidak ada salahnya seorang nangkil kesana nunas damuh", urai Jro Mangku Ketut Pada. Sangat menarik sekali apa yang kita saksikan di Utama Mandala, karena kalaupun hiruk-pikuknya deru kendaraan bermotor menuju jalur timur, namun Pura Kebo Iwa sangat hening dan suasananya sangat mendukung untuk persembahyangan. Suasana sepi dirasakan pamedek karena tembok penyengker dari pura itu sangat megah dan tinggi. Arsitektur Pura ini mengagumkan dan bisa dikatakan betapa tingginya nilai karya yang membuat pura itu dan kini masih sangat tegar berdiri kokoh melambangkan budaya Bali yang sangat agung. *patra
TERPIKAT BAJANG JEGEG
MENURUT sejarah yang disebut diberbagai lontar dikatakan, Gaduh Kebo Iwa adalah sosok patih yang maha sakti. Gaduh Kebo Iwa pepatih dari Raja Gajahwaktra yang memerintah di Bedahulu (sekarang Bedahulu) sekitar tahun 1324M-1343M. Sebelumnya di Bedahulu memerintah seorang raja yag bernama Mesula-mesuli, setelah meninggal kerajaan jatuh pada Gajahwaktra alias Sri Tapolung yang beristana di Bedahulu.
Diceritakan Sri Tapolung ini adalah seorang raja yang sangat sakti, tapi dibarengi dengan sifat-sifatnya yag sangat sombong. Kesombongannya itu sampai berani melawan perintah para dewa-dewa, sifat-sifatnya sesuai dengan sifat Mayadenawa, yang kemudian dapat dikalahkan oleh Bhatara Indra (Mahadewa). Dalam pemerintahan itu Gajahwaktra dibantu bebrapa pepatih yaitu: di Tengkulak dibantu oleh Ki Pasunggrigis sebagai perdana menteri (sebelah barat Bedahulu). Ki Gaduh Kebo Iwa mendapat tugas di Blahbatuh, pembantu lainnya adalah Demung I Udug Basur, Tumenggung Ki Kalagemet, menteri Girikmana (Ularan) bercokol di Bali utara, Ki Tunjung Tutus di Tianyar, Tunjung Biru di Tenganan, Ki Buan di Batur, Ki Tambiak di Jimbaran, Ki Kopang di Seraya dan Ki Kalungsingkal di Taro. Dengan penjelasan beberapa sumber tadi maka dapat dikatakan Gaduh Kebo Iwa adalah seorang patih yang bertempat tinggal di Blahbatuh dan merupakan patih yang sangat disegani Raja Gajahwaktra.
Kisah perjalanan Ki Gaduh Kebo Iwa memang agak aneh, pasalnya Gaduh Kebo Iwa adalah pengagum bajang jegeg. Sehingga dengan kedatangan Majapahit ke Bali, dengan tipu daya untuk membawa Gaduh Kebo Iwa ke Jawa yang akan dijodohkan dengan seorang gadis cantik yang sudah terkenal dengan nama Putri Jejawi.
Upaya ini adalah bikinan Patih Majapahit supaya dapat mengalahkan Bali dengan cara halus. Tapi setelah gadis cantik tersebut mau dikawinkan, harus dipenuhi permintaan membuat sumur yang dalam. Dengan tidak berfikir panjang lebar Gaduh Kebo Iwa tidak menolak, dengan kekuatan atau kesaktiannya membuat sumur dan akhirnya setelah kedalamannya cukup. Putri cantik yang bernama Jejawi menyuruh anak buahnya menimbun Gaduh Kebo Iwa. Akhirnya Gaduh Kebo Iwa ditimbun dengan berbagai bebatuan, seperti batu putih dan tanah. Tapi setelah ditimbun dengan bebatuan, ternyata Gaduh Kebo Iwa tidak mati. Keluarlah sabda Gaduh Kebo Iwa dari dalam sumur, bahwa dirinya tidak akan mati sebelum ditimbun dengan ranting dan garam. Setelah ditimbun dengan ranting dan garam barulah Gaduh Kebo Iwa mati. Hanya dengan janji akan dikawinkan dengan gadis cantik Gaduh Kebo Iwa rela meninggalkan Bali yang merupakan andalannya untuk mempertahankan daerah yang dikuasai Gajahwaktra. Tapi karena Gaduh Kebo Iwa kesukaannya adalah gadis cantik dengan mudah Gajahmada menaklukan Bali.
Sebelum Gaduh Kebo Iwa pergi ke Majapahit dengan tipu daya akan dikawinkan dengan gadis cantik, maka sempat meninggalkan sebuah karya berupa pura yang disebut dengan Pura Gaduh Kebo Iwa. Di pura ini ada sebuah arca kepala yang cukup besar, konon patung kepala Gaduh Kebo Iwa sendiri. Dengan ditemukannya patung kepala tersebut sampai sekarang pura itu sebagai peninggalan perjalanan Gaduh Kebo Iwa. *patra dari berbagai sumber.
Jro Mangku Ketut Pada:
PERCAYA DENGAN IDA SASUHUNAN
KETUT Pada, pemangku Pura Kebo Iwa yang ditugaskan untuk melayani umat yang tangkil ke Pura Kebo Iwa. "Sebagai pemangku memang tiang sangat bodoh dalam bidang tattwa agama," urainya dengan lugu. Tapi Ida Sasuhunan yang melingga disini tahu dirinya bodoh, kebodohannya tidak menjadi halangan ngayah sebagai seorang pemangku. Karena disadari apa yang dilakukan I Ketut Pada ini sebatas mewarisi tugas ini, dan semua itu tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Akibatnya sebagai orang belog, harus mau mengikut garis keturunan ini. Dalam usia yang sudah usur yaitu 70 tahun I Ketut Pada masih bisa memberikan pelayanan kepada umat Hindu yang pedek tangkil walaupun dengan kondisi badan yang agak srayang sruyung. Tujuannya ngayah kata Jro Mangku adalah, "Wantah nunas keselamatan secara sekala-niskala, tidak lebih dari itu,: paparya ketika diajak berdialog MBA. bagi Ketut Pada pada hari Wraspati Umanis, Pahang adalah hari-hari sibuknya melayani umat, pasalnya pada hari itu adalah piodalan Ida Bhatara Pura Gaduh yang mesti dilakukan setiap 210 hari sekali. Disaat itulah selama nyejer empat hari penuh dengan kesibukan bhakti. Tanpa mengenal lelah siap mengantarkan umat melakukan bhaktinya kepada Ida Sasuhunan. Usia tua bagi Ketut Pada yang berpenampilan lugu tidak menjadi halangan dan sudah percaya kepada Ida Sasuhunan yang menuntunnya untuk ngayah disini.
Sebagai manusia matah seharusnya sudah lengser mengingat sudah tidak layak ngayah lagi karena umur sudah memberikan garis yang sudah tua. Tapi karena kehendak niskala, niat itu diurungkan takut nanti ada kualat, tukasnya dengan kalem. Setiap orang yang hidup didunia ini umumnya mempunyai prinsip, demikian juga Jro mangku Ketut Pada mempunyai prinsip hidup yang sangat mulia.
"Didunia ini jangan sekali-kali mempunyai niat nguluk-nguluk, sebab nguluk adalah perbuatan yang tidak baik walaupun itu kelihatannya sangat sepele, tapi hikmah dosa dari nguluk-nguluk itu sangat besar." saran Jro Mangku Ketut Pada.
"Didunia ini tidak ada yang tidak mustahil, dengan hidup ini usahakan berbuat sesuai norma agama dan norma etika." katanya menambahkan. Tapi sayangnya hidup seseorang kini banyak yang mempunyai niat nguluk-nguluk, apalagi nguluk orang belog, sebenarnya itu harus dihindari, demi materi banyak yang nguluk-nguluk dengan cara halus demi mencapai tujuannya. Biasanya orang miskin dan orang belog sering menjadi korban uluk-uluk dari orang pintar, katanya mengingatkan. *patra
Pura Gaduh Kebo Iwa
KESAKTIAN PATIH KEBO IWA
SIAPA yang tidak kenal Patih Kebo Iwa. Dialah mahapatih paling sakti di zaman kerajaan dulu. Berkat kesaktian yang dimilikinya membuat Mahapatih Majapahit, Gajah Mada pusing tujuh keliling. Lantas apa hubungan Pura Gaduh Kebo Iwa dengan Mahapatih Bali, Gaduh Kebo Iwa?
Dari Denpasar menuju pura ini, jika lalulintas lancar waktu yang dihabiskan hanya 30 menit. Pura Kebo Iwa posisinya ada di sebelah Selatan Bale Wantilan Blahbatuh. Begitu menginjak jalan aspal yang cukup bagus, Anda akan melihat betapa kokohnya Pura Gaduh Kebo Iwa, kondisi ini tidak hanya terlihat dari luar pura, di dalam pura kita juga melihat pemandangan yang sama.
Berbagai pelinggih yang megah akan Anda saksikan di pura ini yang seakan melukiskan betapa luhurnya karya seni dari leluhur kita yang telah mewariskan sebuah mementum bangunan yang sangat agung.Areal pura cukup luas, bisa menampung ledakan umat yang mau pedek tangkil ke pura. Pura Gaduh Kebo Iwa ini adalah kompleks dari berbagai pura yang ada di sebelah barat. Bagaimana sejarah berdirinya pura ini. Menurut Jro Mangku yang ngayah di pura ini, pura yang ada sekarang ini merupakan karya agung Patih Gaduh Kebo Iwa.
LANTAS SIAPA SEBENARNYA KEBO IWA ITU?
Dalam berbagai sumber lontar, disebutkan Gaduh Kebo Iwa adalah sebuah dongeng, tapi ada juga yang menyebutkan sebuah sejarah pada jaman dulu di Bali. Gaduh Kebo Iwa kalau di Bali sangat terkenal dengan kesaktiannya. Karena saktinya dia bergelar mahapatih yang tidak terkalahkan dan patih yang ditakuti oleh kerajaan-kerajaan yang ingin menguasai wilayah kerajaan yang dipegangnya. Tapi ada yang mengatakan Gaduh Kebo Iwa adalah seorang raksasa, bertubuh kuat, gagah perkasaa dan sangat sakti. Konon di Bali banyak sekali peninggalan sejarah yang merupakan hasil karya atau setidak-tidaknya ada hubungannya dengan kehidupan Patih Gaduh Kebo Iwa.
Menurut legenda atau dongeng Gaduh Kebo Iwa bertempat tinggal di Desa Blahbatuh tepatnya di sebelah Barat Daya Gianyar sekarang. Disebut-sebut sebagai peninggalan Kebo Iwa adalah Candi Padas Gunung Kawi, Kolam Tirta Empul yang ada di Tampak Siring dimana Kebo Iwa diceritakan mandi dengan menggosok punggungnya dengan batu yang datang sendiri dari Bukit Buluh yang ada di Klungkung. Sebuah jalan yang naik terjal yang ada di Trunyan juga disinggung ada missi perjalanan dari Kebo Iwa dan oleh penduduk dikatakan dengan undag (prigi) Kebo Iwa.
Singkat cerita setiap ada tempat atau tanah, batu berlobang sering dihubungkan dengan tapak kaki Kebo Iwa. Lebih hebat lagi Kebo Iwa hanya bermodalkan dengan kayu Kelor bisa menggotong atau memikul tanah. Jatuhan tanah yang dipikulnya dengan kayu kelor tersebut membuat sebuah pulau-pulau kecil seperti yang dikaitkan dengan adanya Pulau Nusa Dua sekarang.
Yang patut menjadi catatan tersendiri adalah Bali mencapai kejayaan itu justru ketika mahapatih Kebo Iwa masih berkuasa. Pasalnya semenjak Bali dikuasai Kebo Iwa, majapahit tidak bisa menjajah Bali. Untuk membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada membuat taktik jitu dengan menugaskan Kebo Iwa membuat sumur, setelah itu ditimbun dengan batu dicampur kapur. Maka Kebo Iwa pun wafat. *patra dari berbagai sumber.
PERMATA MERAH JATUH DENGAN GAIB
BERBAGAI keunikan yang ada pada sebuah pura ternyata apa yang kita mohonkan bisa jadi kita dapatkan. Begitu juga yang ada di Pura Kebo Iwa. Krama yang tahu pura ini akan mengadakan perjalanan sucinya untuk mendekatkan diri dengan Ida Sanghyang Widhi. Kalau kita percaya di Pura Gaduh/Kebo Iwa Ida sasuhunan sangat pemurah. Dan banyak para pemedek yang membuktikan mendapatkan sesuatu. Jangankan pada hari-hari piodalan, ternyata pada hari-hari biasa tidak jarang kita saksikan krama yang pedek tangkil. Krama yang tangkil datang dari berbagai daerah, sehingga pura ini bukanlah milik dari krama Blahbatuh. Seperti dikatakan oleh Jro Mangku Ketut Pada ketika dihubungi MBA mengatakan "Pura ini memang sering dikunjungi krama Bali dan tiang tidak tahu dari mana asal pedek tangkil kesini", ujarnya polos. Dengan keyakinan umat untuk mendalami agamanya yang semakin meningkat memang diakui sekarang berbagai pura sempat menjadi sasaran umat. Sehingga termasuk Pura Kebo Iwa ada saja yang datang untuk meminta restu sesuai profesinya. Ada cerita sangat menarik yang mengaku rombongan dari Denpasar. Di saat khusuknya menghaturkan sembah subhakti kehadapan Ida Sasuhunan ternyata salah satu rombongan tiba-tiba dikagetkan sebuah paica berupa batu permata merah.
Menurut rombongan tersebut tujuannya nangkil ke Pura Kebo Iwa tidak pernah terbesit akan mendapatkan suatu yang berupa paica. Batu merah itu tiba-tiba muncul di atas canang sarinya yang hendak dihaturkannya keluhur, kontan saja pemedek yang lainnya ikut kaget. Dibarengi setengah becanda bahwa ada seorang yang kehilangan permata merah hati. Dengan didapatkannya batu permata itu, maka persembahyangan menjadi lebih khusuk lagi karena diyakini Ida Sasuhunan adalah maha pemurah. Bagi krama setempat yang tidak tahu menahu tentang paica yang sering didapatkan pamedek. Karena itu anugerah, maka tidak ada salahnya seorang nangkil kesana nunas damuh", urai Jro Mangku Ketut Pada. Sangat menarik sekali apa yang kita saksikan di Utama Mandala, karena kalaupun hiruk-pikuknya deru kendaraan bermotor menuju jalur timur, namun Pura Kebo Iwa sangat hening dan suasananya sangat mendukung untuk persembahyangan. Suasana sepi dirasakan pamedek karena tembok penyengker dari pura itu sangat megah dan tinggi. Arsitektur Pura ini mengagumkan dan bisa dikatakan betapa tingginya nilai karya yang membuat pura itu dan kini masih sangat tegar berdiri kokoh melambangkan budaya Bali yang sangat agung. *patra
TERPIKAT BAJANG JEGEG
MENURUT sejarah yang disebut diberbagai lontar dikatakan, Gaduh Kebo Iwa adalah sosok patih yang maha sakti. Gaduh Kebo Iwa pepatih dari Raja Gajahwaktra yang memerintah di Bedahulu (sekarang Bedahulu) sekitar tahun 1324M-1343M. Sebelumnya di Bedahulu memerintah seorang raja yag bernama Mesula-mesuli, setelah meninggal kerajaan jatuh pada Gajahwaktra alias Sri Tapolung yang beristana di Bedahulu.
Diceritakan Sri Tapolung ini adalah seorang raja yang sangat sakti, tapi dibarengi dengan sifat-sifatnya yag sangat sombong. Kesombongannya itu sampai berani melawan perintah para dewa-dewa, sifat-sifatnya sesuai dengan sifat Mayadenawa, yang kemudian dapat dikalahkan oleh Bhatara Indra (Mahadewa). Dalam pemerintahan itu Gajahwaktra dibantu bebrapa pepatih yaitu: di Tengkulak dibantu oleh Ki Pasunggrigis sebagai perdana menteri (sebelah barat Bedahulu). Ki Gaduh Kebo Iwa mendapat tugas di Blahbatuh, pembantu lainnya adalah Demung I Udug Basur, Tumenggung Ki Kalagemet, menteri Girikmana (Ularan) bercokol di Bali utara, Ki Tunjung Tutus di Tianyar, Tunjung Biru di Tenganan, Ki Buan di Batur, Ki Tambiak di Jimbaran, Ki Kopang di Seraya dan Ki Kalungsingkal di Taro. Dengan penjelasan beberapa sumber tadi maka dapat dikatakan Gaduh Kebo Iwa adalah seorang patih yang bertempat tinggal di Blahbatuh dan merupakan patih yang sangat disegani Raja Gajahwaktra.
Kisah perjalanan Ki Gaduh Kebo Iwa memang agak aneh, pasalnya Gaduh Kebo Iwa adalah pengagum bajang jegeg. Sehingga dengan kedatangan Majapahit ke Bali, dengan tipu daya untuk membawa Gaduh Kebo Iwa ke Jawa yang akan dijodohkan dengan seorang gadis cantik yang sudah terkenal dengan nama Putri Jejawi.
Upaya ini adalah bikinan Patih Majapahit supaya dapat mengalahkan Bali dengan cara halus. Tapi setelah gadis cantik tersebut mau dikawinkan, harus dipenuhi permintaan membuat sumur yang dalam. Dengan tidak berfikir panjang lebar Gaduh Kebo Iwa tidak menolak, dengan kekuatan atau kesaktiannya membuat sumur dan akhirnya setelah kedalamannya cukup. Putri cantik yang bernama Jejawi menyuruh anak buahnya menimbun Gaduh Kebo Iwa. Akhirnya Gaduh Kebo Iwa ditimbun dengan berbagai bebatuan, seperti batu putih dan tanah. Tapi setelah ditimbun dengan bebatuan, ternyata Gaduh Kebo Iwa tidak mati. Keluarlah sabda Gaduh Kebo Iwa dari dalam sumur, bahwa dirinya tidak akan mati sebelum ditimbun dengan ranting dan garam. Setelah ditimbun dengan ranting dan garam barulah Gaduh Kebo Iwa mati. Hanya dengan janji akan dikawinkan dengan gadis cantik Gaduh Kebo Iwa rela meninggalkan Bali yang merupakan andalannya untuk mempertahankan daerah yang dikuasai Gajahwaktra. Tapi karena Gaduh Kebo Iwa kesukaannya adalah gadis cantik dengan mudah Gajahmada menaklukan Bali.
Sebelum Gaduh Kebo Iwa pergi ke Majapahit dengan tipu daya akan dikawinkan dengan gadis cantik, maka sempat meninggalkan sebuah karya berupa pura yang disebut dengan Pura Gaduh Kebo Iwa. Di pura ini ada sebuah arca kepala yang cukup besar, konon patung kepala Gaduh Kebo Iwa sendiri. Dengan ditemukannya patung kepala tersebut sampai sekarang pura itu sebagai peninggalan perjalanan Gaduh Kebo Iwa. *patra dari berbagai sumber.
Jro Mangku Ketut Pada:
PERCAYA DENGAN IDA SASUHUNAN
KETUT Pada, pemangku Pura Kebo Iwa yang ditugaskan untuk melayani umat yang tangkil ke Pura Kebo Iwa. "Sebagai pemangku memang tiang sangat bodoh dalam bidang tattwa agama," urainya dengan lugu. Tapi Ida Sasuhunan yang melingga disini tahu dirinya bodoh, kebodohannya tidak menjadi halangan ngayah sebagai seorang pemangku. Karena disadari apa yang dilakukan I Ketut Pada ini sebatas mewarisi tugas ini, dan semua itu tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Akibatnya sebagai orang belog, harus mau mengikut garis keturunan ini. Dalam usia yang sudah usur yaitu 70 tahun I Ketut Pada masih bisa memberikan pelayanan kepada umat Hindu yang pedek tangkil walaupun dengan kondisi badan yang agak srayang sruyung. Tujuannya ngayah kata Jro Mangku adalah, "Wantah nunas keselamatan secara sekala-niskala, tidak lebih dari itu,: paparya ketika diajak berdialog MBA. bagi Ketut Pada pada hari Wraspati Umanis, Pahang adalah hari-hari sibuknya melayani umat, pasalnya pada hari itu adalah piodalan Ida Bhatara Pura Gaduh yang mesti dilakukan setiap 210 hari sekali. Disaat itulah selama nyejer empat hari penuh dengan kesibukan bhakti. Tanpa mengenal lelah siap mengantarkan umat melakukan bhaktinya kepada Ida Sasuhunan. Usia tua bagi Ketut Pada yang berpenampilan lugu tidak menjadi halangan dan sudah percaya kepada Ida Sasuhunan yang menuntunnya untuk ngayah disini.
Sebagai manusia matah seharusnya sudah lengser mengingat sudah tidak layak ngayah lagi karena umur sudah memberikan garis yang sudah tua. Tapi karena kehendak niskala, niat itu diurungkan takut nanti ada kualat, tukasnya dengan kalem. Setiap orang yang hidup didunia ini umumnya mempunyai prinsip, demikian juga Jro mangku Ketut Pada mempunyai prinsip hidup yang sangat mulia.
"Didunia ini jangan sekali-kali mempunyai niat nguluk-nguluk, sebab nguluk adalah perbuatan yang tidak baik walaupun itu kelihatannya sangat sepele, tapi hikmah dosa dari nguluk-nguluk itu sangat besar." saran Jro Mangku Ketut Pada.
"Didunia ini tidak ada yang tidak mustahil, dengan hidup ini usahakan berbuat sesuai norma agama dan norma etika." katanya menambahkan. Tapi sayangnya hidup seseorang kini banyak yang mempunyai niat nguluk-nguluk, apalagi nguluk orang belog, sebenarnya itu harus dihindari, demi materi banyak yang nguluk-nguluk dengan cara halus demi mencapai tujuannya. Biasanya orang miskin dan orang belog sering menjadi korban uluk-uluk dari orang pintar, katanya mengingatkan. *patra
Langganan:
Postingan (Atom)





















